Whooila!

Whooila! adalah tempat ngobrol santai
 
IndeksIndeks  FAQFAQ  PendaftaranPendaftaran  Login  
Belum terdaftar di Forum Whooila! [Daftar Sekarang!!] // Mau Liat yang aneh-aneh?? Klik Disini!!
Warung Kopi | Lounge Pictures & Video | Gosip Yuk! | Berita dan Politik | Humor | Games | Olahraga | Khusus Dewasa | Teknologi

Panduan Member Baru: Posting Thread Baru dan Post Repply [Klik Disini!!]
Mau Akses Room Khusus Dewasa 17++ [Klik Disini!!]

Bagikan
Share | 
 

 Pengembangan-Diri Berbasis Bakat: Meluarbiasakan Diri Berdasar Keunikan - [Whooila!]

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
belomAda
[V.I.P Member]


Jumlah posting : 140
Points : 11032
Reputation : 0
Join date : 19.02.10

PostSubyek: Pengembangan-Diri Berbasis Bakat: Meluarbiasakan Diri Berdasar Keunikan   Thu Feb 25, 2010 1:19 am



Pengembangan Diri merupakan topik yang tak kan pernah usang. Setiap generasi pasti membicarakannya, dan setiap kita mustinya senantiasa akan berkutat di dalamnya. Bolehlah kemudian kita membicarakan tentangnya agar jelas bagi diri kita: “Sebenarnya pengembangan diri itu ngapain sih? Arahnya ke mana? Bagaimana bisa mengetahui bahwa pengembangan diri berada dalam arahan yang benar?”

Tulisan ini berbicara tentang pengembangan diri sebagaimana yang semestinya kita jalani.

Pengembangan diri memiliki makna yang kunci pada kata “diri”, yakni bahwa ini adalah terkait pada peletakan tanggung jawab pada diri sendiri, tanpa perlu menyalahkan kondisi, orang lain dan entitas apapun di luar diri. Terkesan sederhana, ini malah jadi tantangan bagi mereka yang suka memandang tinggi dirinya sendiri, yang suka sekali menasehati orang lain sambil terus merasa bahwa dirinya sudah okei dan baik-baik saja.

Padahal pengembangan diri hanya akan bisa terjadi manakala seseorang masih miliki kehausan dan menyadari bahwa dari dirinya masih ada bagian yg bisa dikembangkan. Pengembangan diri menuntut adanya penginvestasian yang mahal pada diri sendiri. Pada diri sendiri? Apakah ini egois? Tentu saja tidak. Dengan mengembangkan diri sendiri, maka kapasitas dan potensi diri kita untuk menolong orang lain pun juga akan meningkat.

Pengembangan diri merupakan sebuah sikap proaktif untuk selalu mencari gagasan dan cara-cara mencapai kebaikan diri. Sebagaimana yang kita mustinya telah sadari, pendidikan formal bukanlah penuntas pembelajaran menuju kebesaran diri & kontribusi. Apalagi pendidikan formal biasanya tidak mengajarkan kita pada kompetensi sukses semisal bagaimana menjalin hubungan, membangun karir, menjadi orang tua yang baik, mencapai kebahagiaan, dsb.

Nah, biasanya keberhasilan dari metodologi pengembangan diri apapun dilihat dari dua sikap yang terbentuk di dalam prosesnya, yakni penerimaan dan ketidakpuasan.

Setiap teknik pengembangan diri pasti akan mengajarkan Anda untuk menerima diri Anda apa adanya. Bahwa banyak hal yang bisa disyukuri dan mustinya kita terima saja bagaimana adanya. Jika ada model pengembangan diri yang tidak mengajarkan kita bersikap seperti itu, berarti ada yang salah di sana.

Namun lantas begini; ketika kita ingin berkembang menjadi lebih baik, bukankah secara otomatis kita harus punya ketidakpuasan pada kondisi kita yang sekarang? Dan memang: bila kita serius mengembangkan diri, kita akan senantiasa mendeteksi jeda yang meresahkan: antara diri kita yang sekarang dan yang diinginkan, antara tingkat kompetensi diri yang sekarang dan nantinya.

Pertama diminta menerima diri apa adanya, lalu lha kok kemudian diminta untuk menanamkan keresahan dan tak berpuas diri? Faktanya, untuk mencapai keberhasilan dalam pengembangan diri, kita memang harus membuang diri kita yang sekarang dan sebelum. Tapi mengapa kok ada konflik logika yang serius di sini?

Di sinilah menariknya.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan diri? Bagian mana yang perlu disyukuri? Bagian mana yang kita pantas untuk tak berpuas diri?

Sebagaimana yang kita telah ketahui, manusia terdiri dari entitas ruh dan jasad. Sementara apa-apa yang bisa dilakukan oleh keduanya salah satunya adalah membangun kompetensi berupa pengetahuan, keterampilan, dan mentalitas.

Kombinasi ruh dan jasad adalah paket baku, kita tak bisa mengubahnya. Kita tidak bisa memilih atau mengubah jasad yang ditumpangi oleh ruh kita; ingin berjasad seperti david beckham? Tentu tidak bisa. Lebih jauh lagi, jasad biasanya datang dalam sebuah paket genetis (atau kelengkapan fisik) yang mengarah pada kepemilikan atau ketidakpemilikan kompetensi tertentu. Lance Armstrong lahir dengan kapasitas paru-paru lebih besar ketimbang orang kebanyakan, dan juga kepemilikan hormon metabolisme di atas rata-rata yang membuat dia bisa lebih bertahan dalam aktivitas fisik yang melelahkan. Selain dia, banyak juga orang yang lahir ke dunia dengan kemudahan untuk mempelajari dan menguasai kompetensi tertentu di bidang olahraga, musik, bahasa ataupun yang lainnya. Kita biasa menyebutnya sebagai bakat. Inilah bagian yang harus ditemukan, diterima dan disyukuri bagaimana apa adanya.

Namun kemudian, bakat itu seringkali hadir dalam paket mentah. Dia ada untuk diolah kemudian, untuk disempurnakan. Adalah tugas kita untuk membuatnya jadi matang, dan di sinilah ranah pengembangan diri berada. Maka pengembangan diri biasanya dilakukan dalam rangka untuk mengembangkan kekuatan bakat dan potensi yang sejak awal dihadiahkan dan kita perlu terima apa adanya. Ibaratnya, Tuhan menghadirkan diri kita masing-masingnya dengan paket yang berbeda; ada yang dibawakan kepadanya alat lukis, pena dan kertas, ataupun yang lainnya. Maka setelah kita menerima bawaan kita itu apa adanya, maka dari situ tugas kita adalah memaksimalkan potensinya hingga bisa menjadi lukisan atau tulisan yang indah.

[INDENT][INDENT] Talent-Based Personal Development; begitulah saya mengistilahkannya.

Bahwa pengembangan diri harusnya disesuaikan dengan bakat dan anugerah bawaan atau yang kita dicenderungkan padanya oleh Tuhan, dan bahwa perubahan menjadi lebih baik itu sifatnya adalah personal dalam hal inisiatif dan kemandirian.[/INDENT][/INDENT]



Sehingga dengan perbedaan modal dasar yang dibawa oleh setiap orang, maka tidaklah bijak bila kita menjiplak impian orang lain; “Saya pengen jadi seperti dia”. Karena setiap kita tidaklah dilahirkan dan dicenderungkan potensinya oleh Tuhan secara sama. Meneladani orang lain adalah baik, asal titik tekan kita adalah pada kompetensi general -misal bagaimana dia menghadapi gagal, bagaimana kiat membentuk kebiasaan efektif, dsb- dari proses dia dalam meraih sukses. Bukan hasil akhirnya yang diteladani, melainkan kompetensi dalam proses meraihnya.

Jika kita kemudian mencoba membandingkan diri, maka bandingkanlah diri kita yang sekarang dengan yang mendatang. Dengan beginilah kita akan benar-benar bisa bersesuaian dg kaidah “Hari ini harus lebih baik ketimbang kemarin” dan bukannya “Besok saya harus lebih baik ketimbang dia yang sekarang”.



Maka pertanyaan keseharian kita harusnya berkisar pada:

[INDENT][INDENT]Berdasarkan apa-apa yang telah dibakatkan Tuhan kepada diriku, sudahkah ada peningkatan kompetensi dan kontribusi darinya?[/INDENT][/INDENT]

Maka jangan meniru impian atau berusaha menjadi siapapun yang bukan diri kita, karena itu tidak akan membuat kita bahagia.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 

Pengembangan-Diri Berbasis Bakat: Meluarbiasakan Diri Berdasar Keunikan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Whooila! :: Bla Bla Bla :: Warung Kopi-


Membuat forum | © phpBB | Free forum support | Kontak | Report an abuse | Create your own blog