Whooila!

Whooila! adalah tempat ngobrol santai
 
IndeksIndeks  FAQFAQ  PendaftaranPendaftaran  Login  
Belum terdaftar di Forum Whooila! [Daftar Sekarang!!] // Mau Liat yang aneh-aneh?? Klik Disini!!
Warung Kopi | Lounge Pictures & Video | Gosip Yuk! | Berita dan Politik | Humor | Games | Olahraga | Khusus Dewasa | Teknologi

Panduan Member Baru: Posting Thread Baru dan Post Repply [Klik Disini!!]
Mau Akses Room Khusus Dewasa 17++ [Klik Disini!!]

Bagikan
Share | 
 

 Menyontek, perilaku menyebalkan - [Whooila!]

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
dh4nieamaly
[V.I.P Member]


Jumlah posting : 69
Points : 6452
Reputation : 0
Join date : 23.02.10
Lokasi : Citayem city

PostSubyek: Menyontek, perilaku menyebalkan   Thu Feb 25, 2010 3:07 pm


Saya jadi terkenang cerita menarik yang saya dengar tiga tahun silam, ketika seorang sosiolog, yang juga purnawirawan perwira TNI berceramah di hadapan ratusan karbol taruna sebuah akademi militer di Yogyakarta. Darohim Effendi, namanya

Di antara sentilan-sentilan yang mewarnai ceramahnya itu, Darohim bercerita tentang pengalamannya ketika berkunjung ke Monash University beberapa tahun silam. Darohim tertarik dengan budaya anti menyontek yang menjadi prinsip para mahasiswa dan pelajar di Australia, terutama di kampus Monash University. Dari teman yang mengajaknya berkunjung ke Monash, Darohim mendapat penjelasan: “Dalam sejarah program pasca sarjana di Monash, hanya terjadi satu kasus menyontek. Ternyata mahasiswa yang menyontek itu berasal dari Indonesia.”

Sebagai hukumannya, mahasiswa program magister asal Indonesia itu dikeluarkan secara tidak terhormat dari Monash University. Sungguh memalukan.

Contek menyontek jelas budaya buruk yang mesti segera dieliminir dalam praktik pendidikan di manapun. Tapi sayangnya, virus budaya ini seperti sangat sulit untuk dibasmi, di Indonesia apa lagi: dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi, menyontek tetap diandalkan sebagian pelajar dan mahasiswa untuk mendapatkan nilai lebih baik dari kemampuan yang dimilikinya. “Ini berkaitan dengan budaya pelajar Indonesia yang masih memandang nilai dan ijazah sebagai orientasi belajar mereka,” tandas Darohim mengeluarkan satu pasal yang menjadi penyebab terjadinya praktik contek-menyontek.

Jelas, secara psikologis, perilaku menyontek mencerminkan sikap tak percaya diri yang salah satu penyebabnya karena tak siap menempuh ujian. “Kepercayaan diri muncul karena adanya persiapan,” kata Ki Supriyoko dari Perguruan Taman Siswa, suatu ketika.

Tapi yang jelas, menyontek adalah sebuah kecurangan yang jika dipelihara akan tumbuh menjadi sebuah kejahatan. Tengok saja praktik menyontek yang terkadang dibuat secara sistematis. Misalnya, pembocoran soal ujian Sipenmaru (UMPTN) atau EBTANAS (Ujian Nasional) yang dilakukan oleh ‘orang dalam’ atau bahkan oleh guru. Mereka itu memanfaatkan peluang budaya curang yang melekat di kalangan para siswa kita.

Parahnya lagi, ketika seorang siswa atau mahasiswa mendapat prototipe soal yang diujikan atau bahkan jawaban soal-soal itu, bukan rasa malu yang muncul, melainkan rasa bangga karena mendapat bocoran soal-soal ujian itu.

Meskipun terkadang praktik menyontek dilakukan dengan alasan pembenaran seperti, “untuk membantu orang tua sebab jika tak lulus kasihan orang tua yang telah membiayai pendidikan. Dengan alasan apapun, menyontek tetap tidak bisa dibenarkan.

Seorang yang terbiasa menyontek di masa-masa awal sekolah dasar, akan terus membawa kebiasaan itu di masa pertumbuhan, bahkan hingga masa dewasanya jika tak ada perubahan yang betul-betul radikal dalam kehidupannya, misalnya pertobatan yang timbul setelah peristiwa hidup yang dianggap revolusioner dalam dirinya. Intinya, kebiasaan menyontek memupuk mental curang, tak percaya diri, oportunis dan mau enaknya sendiri.

Salah satu contoh ringan terjadi di sebuah press room (ruang wartawan) di sebuah lembaga pemerintah yang sangat strategis. Peristiwa ini terjadi sekitar enam tahun silam, tapi kemungkinan besar masih terjadi hingga sekarang dan juga di press room- press room lain. Dengan tanpa beban, reporter-reporter yang terlambat datang dan tak mendapat momentum peristiwa wawancara dengan menteri yang memimpin lembaga itu meminta salinan transkrip wawancara singkat yang diperbanyak di press room itu kepada rekan-rekan mereka. Hasilnya dibawa pulang ke kantor seolah- olah hasil usahanya sendiri. Padahal???

Atau praktik plagiat yang masih saja terjadi, bahkan dilakukan oleh manusia sekelas dosen yang menjiplak tesis orang lain demi sebuah gelar doktor. Dua kasus itu hanya sedikit dari mental yang diturunkan dari kebiasaan menyontek. Perilaku contek-menyontek hanyalah secuil catatan dalam dunia pendidikan di Indonesia yang tampaknya sepele tapi menyimpan bahaya yang jika tak segera diantisipasi akan semakin memperarah kualitas mental manusia Indonesia yang sekarang ini semakin bertambah nilai merahnya.

Kasus Monash tadi mungkin bisa dijadikan pelajaran: sangsi bagi pelajar atau mahasiswa yang tertangkap basah atau terbukti menyontek hanya satu, dikeluarkan. Meskipun tak akan menghapus kikis praktik menyontek, paling tidak menanamkan suatu prinsip penegakan hukum yang jelas untuk tak melakukannya.

Atau mekanisme-mekanisme teknis dalam ujian yang perlu dikembangkan agar tak ada sama sekali peluang menyontek, baik itu menyontek kepada teman seruang atau membuka catatan yang tak diizinkan untuk dibuka selama ujian berlangsung. Sungguh, ini sebuah pekerjaan rumah yang patut untuk mendapatkan perhatian besar dari kalangan pendidik kita.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 

Menyontek, perilaku menyebalkan

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Whooila! :: Bla Bla Bla :: Warung Kopi-


Forumotion.com | © phpBB | Free forum support | Kontak | Report an abuse | Free blog