Whooila!

Whooila! adalah tempat ngobrol santai
 
IndeksIndeks  FAQFAQ  PendaftaranPendaftaran  Login  
Belum terdaftar di Forum Whooila! [Daftar Sekarang!!] // Mau Liat yang aneh-aneh?? Klik Disini!!
Warung Kopi | Lounge Pictures & Video | Gosip Yuk! | Berita dan Politik | Humor | Games | Olahraga | Khusus Dewasa | Teknologi

Panduan Member Baru: Posting Thread Baru dan Post Repply [Klik Disini!!]
Mau Akses Room Khusus Dewasa 17++ [Klik Disini!!]

Bagikan
Share | 
 

 Jawaban Elegan dari seorang tukang bakso - [Whooila!]

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
cHakeL
[V.I.P Member]


Jumlah posting : 401
Points : 18374
Reputation : 0
Join date : 18.02.10

PostSubyek: Jawaban Elegan dari seorang tukang bakso   Mon Mar 15, 2010 7:53 pm

Di suatu senja sepulang kantor, saya masih berkesempatan untuk ngurus tanaman di depan rumah, sambil memperhatikan beberapa anak asuh yang sedang belajar menggambar peta, juga mewarnai. Hujan rintik rintik selalu menyertai di setiap sore di musim hujan ini.

Di kala tangan sedikit berlumuran tanah kotor,...terdengar suara tek...tekk.. .tek...suara tukang bakso dorong lewat. Sambil menyeka keringat..., ku hentikan tukang bakso itu dan memesan beberapa mangkok bakso setelah menanyakan anak - anak, siapa yang mau bakso ?

"Mauuuuuuuuu. ...", secara serempak dan kompak anak - anak asuhku menjawab.

Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya. ...

Ada satu hal yang menggelitik fikiranku selama ini ketika saya
membayarnya, si tukang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Yang satu disimpan dilaci, yang satu ke dompet, yang lainnya ke kaleng bekas kue semacam kencleng. Lalu aku bertanya atas rasa penasaranku selama ini.

"Mang kalo boleh tahu, kenapa uang - uang itu Emang pisahkan? Barangkali ada tujuan ?" "Iya pak, Emang sudah memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso yang sudah berlangsung hampir 17 tahun. Tujuannya sederhana saja, Emang hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak Emang, mana yang menjadi hak orang lain / tempat ibadah, dan mana yang menjadi hak cita – cita penyempurnaan iman ".

"Maksudnya.. ...?", saya melanjutkan bertanya.

"Iya Pak, kan agama dan Tuhan menganjurkan kita agar bisa berbagi dengan sesama. Emang membagi 3, dengan pembagian sebagai berikut :

1. Uang yang masuk ke dompet, artinya untuk memenuhi keperluan hidup sehari - hari Emang dan keluarga.

2. Uang yang masuk ke laci, artinya untuk infaq/sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Dan alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso, Emang selalu ikut qurban seekor kambing, meskipun kambingnya yang ukuran sedang saja.

3. Uang yang masuk ke kencleng, karena emang ingin menyempurnakan agama yang Emang pegang yaitu Islam. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu, untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji ini tentu butuh biaya yang besar. Maka Emang berdiskusi dengan istri dan istri menyetujui bahwa di setiap penghasilan harian hasil jualan bakso ini, Emang harus menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan insya Allah selama 17 tahun menabung, sekitar 2 tahun lagi Emang dan istri akan melaksanakan ibadah haji.

Hatiku sangat...... .....sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh sebuah jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari si emang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki fikiran dan rencana indah dalam hidup seperti itu. Dan seringkali berlindung di balik tidak mampu atau belum ada rejeki.

Terus saya melanjutkan sedikit pertanyaan, sebagai berikut : "Iya memang bagus...,tapi kan ibadah haji itu hanya diwajibkan bagi yang mampu, termasuk memiliki kemampuan dalam biaya....".

Ia menjawab, " Itulah sebabnya Pak. Emang justru malu kalau bicara soal mampu atau tidak mampu ini. Karena definisi mampu bukan hak pak RT atau pak RW, bukan hak pak Camat ataupun MUI.

Definisi "mampu" adalah sebuah definisi dimana kita diberi kebebasan untuk mendefinisikannya sendiri. Kalau kita mendefinisikan diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita akan menjadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita mendefinisikan diri sendiri, "mampu", maka Insya Allah dengan segala kekuasaan dan kewenangannya Allah akan memberi kemampuan pada kita".

"Masya Allah..., sebuah jawaban elegan dari seorang tukang bakso".
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
ewingsa
Whooila! Army


Jumlah posting : 59
Points : 711
Reputation : 0
Join date : 27.02.10

PostSubyek: Re: Jawaban Elegan dari seorang tukang bakso   Fri Mar 19, 2010 1:13 am

Manusia langka gan, emang semakin jarang ornag yang memikirkan orang lain
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
emgemoro
Whooila! Army


Jumlah posting : 58
Points : 0
Reputation : 0
Join date : 19.03.10

PostSubyek: Re: Jawaban Elegan dari seorang tukang bakso   Fri Mar 19, 2010 1:59 pm

waduh ...masak gw kalah ama tukang bakso............
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Dewi Malam
Whooila! Army


Jumlah posting : 53
Points : 0
Reputation : 0
Join date : 19.03.10

PostSubyek: Re: Jawaban Elegan dari seorang tukang bakso   Fri Mar 19, 2010 3:39 pm

Mari kita menabung .... untuk dunia dan akhirat ..... setuju !!!
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
fahmiez
Whooila! Army


Jumlah posting : 85
Points : 0
Reputation : 0
Join date : 31.03.10

PostSubyek: Re: Jawaban Elegan dari seorang tukang bakso   Wed Mar 31, 2010 10:01 am

tersentuh aku mwndengar nya gan Crying or Very sad
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
yanco
Whooila! Army


Jumlah posting : 81
Points : 0
Reputation : 0
Join date : 10.11.11

PostSubyek: Re: Jawaban Elegan dari seorang tukang bakso   Fri Nov 11, 2011 12:23 am

Masya Allah..
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
Sponsored content




PostSubyek: Re: Jawaban Elegan dari seorang tukang bakso   Today at 6:51 am

Kembali Ke Atas Go down
 

Jawaban Elegan dari seorang tukang bakso

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Whooila! :: Bla Bla Bla :: Warung Kopi-


Membuat forum | © phpBB | Free forum support | Kontak | Report an abuse | Create a free blog