Whooila!

Whooila! adalah tempat ngobrol santai
 
IndeksIndeks  FAQFAQ  PendaftaranPendaftaran  Login  
Belum terdaftar di Forum Whooila! [Daftar Sekarang!!] // Mau Liat yang aneh-aneh?? Klik Disini!!
Warung Kopi | Lounge Pictures & Video | Gosip Yuk! | Berita dan Politik | Humor | Games | Olahraga | Khusus Dewasa | Teknologi

Panduan Member Baru: Posting Thread Baru dan Post Repply [Klik Disini!!]
Mau Akses Room Khusus Dewasa 17++ [Klik Disini!!]

Bagikan
Share | 
 

 ‘Kota Hantu’ Batavia - [Whooila!]

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
cHakeL
[V.I.P Member]


Jumlah posting : 401
Points : 18374
Reputation : 0
Join date : 18.02.10

PostSubyek: ‘Kota Hantu’ Batavia   Wed Apr 07, 2010 3:44 pm

Couperus, seorang pendatang dari Belanda, begitu turun dari kapal di
pelabuhan Sunda Kalapa pada 1815 menyaksikan bahwa Batavia yang
sebelumnya mendapat predikat ‘ratu dari timur’ telah berubah
seolah-olah merupakan kota hantu.

Lalu dia menjelajahi Princenstraat yang kini telah menjadi Jl Cengkeh,
sebelah utara Kantor Pos, Jakarta Kota. Dia mendapati beberapa gedung
di kota tua telah dihancurkan rata dengan tanah termasuk Istana
Gubernur Jenderal, gedung yang cukup megah ketika itu.

Penghancuran itu dilakukan oleh gubernur jenderal Willem Herman
Daendels pada tahun 1808 ketika memindahkan pusat kota ke Weltevreden
(Gambir dan Lapangan Banteng) yang jaraknya sekitar 15 km selatan kota
tua. Pemindahan dilakukan karena pusat kota di tepi pantai itu telah
menjadi sarang penyakit. Ada yang menyebutkan ‘kuburan’ orang Belanda.

Padahal, sebelumnya Princenstraat dengan jalannya yang memanjang
merupakan daerah elite orang-orang Belanda. Di sini terdapat
gedung-gedung mewah yang merupakan bagian kota Batavia yang paling
indah. ”Mereka membangun rumah-rumah di tepi parit dan kanal Tigergrach
(kanal harimau), berpagar tanaman rapi berupa pohon kenari di kiri
kanan, melebihi segala-galanya yang pernah saya lihat di Holland,”
tulis Couperos.

Di pusat pemerintahan VOC itu penduduk kota Batavia tiap hari
disibukkan ke kantor, pasar atau sekadar pesiar keliling kota, sembari
pamer kekayaan. Nyonya-nyonya besar Kompeni, serta nyai-nyai Belanda,
bergaun serba mewah dengan rok bertingkat-tingkat kayak kurungan ayam.
Mereka keluar mencari angin di samping kanal dan terusan Batavia dengan
congkak.

Para budak dan bedinde berjalan mengiringi mereka. Memayungi wajahnya
dari sengatan matahari tropis yang panas. Para budak wanita terus
mengipas-ngipas mencari angin buat sang nyai yang terus mengunyah sirih
pinang, memerahi bibirnya.

Sementara, di bawah keteduhan pohon kenari yang berjejer rapi di
sepanjang tepian kanal dan terusan, penduduk Batavia lalu lalang di
tengah seribu satu kesibukan. ”Saat senja menjelang, rumah-rumah
pemandian di sepanjang tepian dinding kanal dan terusan, dipenuhi
wanita telanjang dada berendam di air, zonder kuatir buaya pemangsa
pria iseng yang datang mengintip,” tulis Thomas B Ataladjar dalam buku
Toko Merah. Waktu itu, saat malam terang bulan, terutama malam Minggu,
pemuda dan pemudi yang tengah kasmaran menyanyi sambil memetik gitar
menjelajahi kanal-kanal dengan perahu.

Bagi penduduk Jabodetabek – Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi
masa kini akan sangat sulit membayangkan kota Batavia yang santai pada
akhir abad ke-18 dan juga abad ke-19. Sebagian bangunan dari masa itu
sudah diratakan dengan tanah. Taman-taman yang indah mengelilingi
vila-vila yang memberi warna Eropa pada kota Batavia telah hilang.
Beberapa bagian peninggalan masa lalu itu kini terkesan kumuh. Lalu
lintasnya macet, sementara muara Ciliwung yang dulu dibanggakan dan
dapat dimasuki kapal-kapal, tampak kotor, kehitaman dan berbau.

Pada zaman itu tidak ada mobil dan tentu saja tidak ada kemacetan,
apalagi polusi. Pedagang asongan, jalur cepat dan manusia hidup tanpa
dikejar waktu seperti sekarang. Yang ada hanya beberapa sado yang
ditarik kuda yang memecahkan kesunyian jalan raya yang tidak diaspal
dan diteduhi oleh pohon-pohon rindang yang berdiri kokoh tanpa khawatir
akan tumbang seperti sering terjadi akhir-akhir ini.

Menurut Bernard Dorleans dalam buku Orang Indonesia & Orang Prancis
dari Abad ke-XVI s/d Abad XX, pada 1815 Batavia hanya berpenduduk 47
ribu jiwa dan pada akhir abad ke-19 sebanyak 116 ribu jiwa. Dengan kata
lain, ibukota Hindia Belanda ini bersuasana pedesaan bila dibandingkan
dengan kota industri dan pelabuhan Surabaya yang berpenduduk 147 ribu
jiwa dan berirama hidup lebih cepat.

Gubernur Jenderal Daendels, setelah memporak-porandakan kota tua
Batavia, membangun Weltevreden belasan kilometer selatan kota tua. Di
samping gedung dan perkantoran sebagai pusat pemerintahan, ia juga
membangun lapangan Gambir yang mula-mula diberi nama Champs de Mars.
Kemudian menjadi Konings Plein saat Belanda berkuasa kembali. Di
Weltevreden ia juga membangun Waterlooplein yang kini menjadi Lapangan
Banteng.

Konings Plein yang oleh warga Betawi disebut Lapangan Gambir dan
Lapangan Ikada pada masa Jepang (kini Lapangan Monas), mungkin
merupakan lapangan paling luas di dunia. Lebih luas dari lapangan Santo
Pietro di Vatikan tempat Paus bertatap muka dengan para jamaah
Katholik. Juga lebih luas dari Tian An Men di Beijing dan Lapangan
Merah di Moskow.

Di dekat Monas terdapat Kebun Sirih. Dari namanya sudah dapat
diperkirakan, kawasan itu dulu merupakan kebun sirih. Tanaman merambat
yang belum begitu lama berselang digemari banyak orang untuk
dikunyah-kunyah nyirih (makan sirih). Kelengkapannya antara lain kapur
(sirih), pinang dan gambir.

Sampai 1960-an di rumah-rumah masih tersedia tempat sirih untuk para
ibu yang datang bertamu dengan tempolong untuk membuang ludah bewarna
merah setelah mengunyahnya. Sampai abad ke-19 bukan hanya wanita, pria
pun banyak yang nyirih.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 

‘Kota Hantu’ Batavia

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Whooila! :: Bla Bla Bla :: Warung Kopi-


Membuat forum | © phpBB | Free forum support | Kontak | Report an abuse | www.sosblogs.com