Whooila!

Whooila! adalah tempat ngobrol santai
 
IndeksIndeks  FAQFAQ  PendaftaranPendaftaran  Login  
Belum terdaftar di Forum Whooila! [Daftar Sekarang!!] // Mau Liat yang aneh-aneh?? Klik Disini!!
Warung Kopi | Lounge Pictures & Video | Gosip Yuk! | Berita dan Politik | Humor | Games | Olahraga | Khusus Dewasa | Teknologi

Panduan Member Baru: Posting Thread Baru dan Post Repply [Klik Disini!!]
Mau Akses Room Khusus Dewasa 17++ [Klik Disini!!]

Bagikan
Share | 
 

 Rasionalisasi Masa Depan Partai Politik Indonesia - [Whooila!]

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
ikh
Whooila! Army


Jumlah posting : 153
Points : 2595
Reputation : 0
Join date : 12.06.10
Lokasi : Indonesia

PostSubyek: Rasionalisasi Masa Depan Partai Politik Indonesia   Sat Jun 19, 2010 10:32 am

Menyikapi berbagai dinamika perpolitikan dalam negeri, ada kecenderungan Iklim politik Indonesia akan terus dipengaruhi oleh varian-varian faktual global yang sangat identik dengan tata sistem dunia yang semakin terpola homogen namun bercirikan varian yang sangat complex.

Tata sistem interaksi masyarakat dunia yang terbentuk semakin mengarah pada konvergensi total sosial, ekonomi, politik dan bahkan teknologi. Keterbatasan sumber daya yang dimiliki masing-masing negara berbeda satu sama lain tetapi dengan objektif yang sama, yakni survival.

Keterbatasan inilah yang akhirnya memaksa masing-masing negara untuk meramu strategy dan tactic demi mempertahankan dan menguasai sumber daya, baik yang ada dalam wilayah yurisdiksinya maupun yang tersebar di negara lain, diantaranya melalui skema “standard diplomacy” ataupun yang lebih spesifik seperti bergabung dalam Free Trade Agreement.

Dalam merealisasikan tujuan strategisnya, sebuah negara harus mengalami proses akumulasi interaksi politik diantara kubu-kubu kekuatan dominan dalam struktur maupun supra struktur sistem politik dalam negerinya, semakin cepat tercipta konsensus strategis semakin cepat tujuan negara tersebut tercapai dan tentunya dengan harapan tetap berada dalam mainstream untuk mewujudkan kesejahteraan nasional (nation’s welfare).

Dalam kaitan itu, upaya untuk mewujudkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat melalui efektivitas dan stabilitas pemerintahan merupakan sebuah hal yang mutlak. Begitupun di Indonesia, pemerintah wajib membangun konsensus dan menghimpun komitmen politik yang kuat dari segenap unsur kekuatan nasional terutama di Parlemen, apalagi sistem pemerintahan kita saat ini adalah sistem presidensil dimana Presiden langsung dipilih oleh rakyat.

Efektivitas pemerintahan presidensil jelas sangat bergantung pada dukungan politik di Parlemen. Namun, dalam realitasnya kekuatan politik yang ada di Parlemen terfragmentasi oleh banyaknya jumlah Parpol yang ada dan hal ini seringkali menjadi faktor penyebab tidak stabilnya pemerintahan mengingat sulitnya memperoleh dukungan absolut atas sebuah kebijakan, meskipun pada dasarnya kebijakan tersebut ditujukan bagi kepentingan rakyat.
Sebagai contoh, bisa kita lihat betapa berlarut-larutnya penyelesaian sejumlah masalah, seperti Kasus Bank Century, PK Bibit-Chandra, dan yang terakhir kenaikan TDL yang sudah disetujui DPR masih sangat mungkin akan terus menuai kontroversi yang menyita waktu dan energi pemerintah dan DPR sehingga hal ini sangat rentan mengganggu skala prioritas yang seharusnya diselesaikan oleh pemerintah dan DPR. Seperti kita ketahui, pemerintah tentu tidak dapat bekerja maksimal tanpa adanya dukungan dari DPR.

MATURITY SISTEM KEPARTAIAN
DPR memiliki fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan, fungsi ini seharusnya bekerja maksimal untuk memastikan bahwa kebijakan yang diambil pemerintah tetap menempatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat sebagai tujuan utama. Fragmentasi kekuatan politik di Parlemen sebenarnya berawal dari penerapan sistem kepartaian Indonesia yang menganut sistem multi partai sebagai pijakan awal dalam cita-cita untuk menjunjung asas demokrasi.

Asas demokrasi memberikan kebebasan kepada warganegara untuk berorganisasi, mendirikan partai politik dan mengemukakan pendapat. Dalam iklim demokrasi, partai politik bisa berkembang secara alami, berkolaborasi dan bebas beroposisi terhadap kebijakan pemerintah.

Realitas politik yang terjadi saat ini, jumlah Parpol dinilai terlalu banyak, sehingga masyarakat sulit untuk menentukan pilihan. Jumlah Parpol yang terlalu banyak akan sangat mempengaruhi kecepatan konsensus di parlemen, karena besarnya waktu yang tersita untuk menghimpun berbagai kepentingan dan idealisme politik seringkali berdampak pada tertundanya berbagai kebijakan strategis. Kemajemukan suku, agama, ekonomi ataupun aliran politik seharusnya tidak menjadi sebuah hambatan dalam mengakomodasi kepentingan politik apabila kepentingan rakyat tetap sebagai tujuan yang paling utama.

REORIENTATION
Belajar dari sejarah perkembangan bangsa dan negara, sudah seharusnya kita saat ini mengubah paradigma kita dalam memandang fungsi politik. Politik dari sisi kepentingan seharusnya dilihat secara simple, bukan lagi sesuatu hal yang rumit selama setiap kepentingan politik dari masing-masing Parpol bisa ‘diklasifikasikan” atau “disederhanakan” dengan jumlah sesedikit mungkin tetapi dengan kualitas dan kapasitas yang diperbesar. Upaya ini diharapkan akan mampu mengeliminir hambatan yang tercipta antara eksekutif dan legistatif sehingga mekanisme check & balance diantara keduabelah pihak akan lebih terpola.

Usulan untuk menyederhanakan jumlah Parpol dengan memperbesar level Parliamentary Threshold (PT) dari 2,5 persen menjadi 5 persen bisa dijadikan bahan pertimbangan. Mengingat jumlah Parpol yang terlalu banyak menimbulkan konsekuensi kebingungan masyarakat sebagai pemilih dalam menentukan preferensi politiknyam karena umumnya setiap Parpol memiliki platform dan ideologi yang hampir sama. Selain itu, bermunculannya Parpol kecil hanya akan membuat anggaran pemerintah membengkak karena tidak memiliki jumlah pemilih yang signifikan. Padahal di sisi lain pemerintah dapat mempergunakan anggaran tersebut untuk kepentingan lain yang jauh lebih baik.

Kondisi ini mungkin saja menguntungkan Parpol besar yang telah mapan, tetapi tidak sepenuhnya benar karena Parpol yang lebih kecilpun dapat melebur kedalam Parpol besar yang ada sepanjang memiliki kesamaan platform dan tentunya tetap mempunyai bargaining power dari akuisisi konstituen yang telah dimiliki selama ini. Selain itu, misi politik Parpol kecil akan lebih berpeluang terakomodasi jika bergabung dengan Parpol besar, karena mapannya kekuatan Parpol besar dalam melakukan penekanan dan kontrol terhadap pemerintah.

Guna mewujudkan kestabilan politik, ada baiknya PT dikoreksi, tentu besarannya harus dipertimbangkan dengan matang dan tetap mengakomodasi hak-hak politik berbagai kelompok. Kita bisa belajar dari berbagai negara di dunia, mayoritas negara maju memiliki jumlah Parpol sedikit. Penerapan sistem multi partai bukan menjadi jaminan bahwa masyarakat pasti akan memberikan suaranya, namun lebih pada kapasitas dan kemampuan Parpol itu sendiri untuk merealisasikan janji-janjinya kepada publik. Asas demokrasi tercipta untuk memberikan kemaslahatan kepada rakyat, bukan memberikan ruang untuk mengeksploitasi rakyat menjadi sebuah komoditas
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 

Rasionalisasi Masa Depan Partai Politik Indonesia

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
Whooila! :: Bla Bla Bla :: Berita dan Politik-


Free forum | © phpBB | Free forum support | Kontak | Report an abuse | Have a free blog with Sosblogs